sumber: www.kisahikmah.com
Dikisahkan oleh Ustadz Salim A Fillah dalam
Rihlah Dakwah, Imam
Abu Yazid al-Busthami bermimpi bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
sallam. Manusia paling mulia itu menyampaikan sebuah pesan agar Imam Abu Yazid
al-Busthami menyampaikan salam ke seorang laki-laki. Sebut saja namanya Fulan.
Sang Imam bergegas. Sesampainya di lokasi
dan menanyakan perihal si Fulan, orang-orang saling mengernyitkan dahi.
“Tuan tidak usah menemui dia. Kemuliaan Tuan
tidak layak jika disandingkan dengan perangainya.” tukas orang-orang, hampir
seluruhnya, sekampung itu.
Oleh karena keterangan tersebut, sang Imam
memilih menuju masjid. Beliau menyibukkan diri untuk i’tikaf; mengisi waktu
dengan shalat, dzikir, membaca al-Qur’an, dan ibadah-ibadah lainnya hingga
tertidur.
Di dalam tidurnya, sang Imam kembali
bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Manusia
teladan ini mengingatkan agar Imam Abu Yazid segera menemui si Fulan guna
menyampaikan salam. Imam Abu Yazid pun terbangun.
Keesokan harinya, niat sang Imam urung
dilakukan lantaran kembali mendapati komentar orang-orang terkait kepribadian
si Fulan. Kata mereka, “Dia hanya menghabiskan waktu di kafe minuman keras.
Tuan tidak layak mendatangi dan berkumpul dengannya.”
Imam Abu Yazid mundur. Lantas kembali
menuju masjid hingga malam hari dan kembali tertidur.
Untuk ketiga kalinya, Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam kembali menemui Imam Abu Yazid. Kali ini, sang
manusia teladan berkata dengan keras, “Jika esok salamku tidak kausampaikan,
kau tidak akan bersamaku di akhirat.”
Sang Imam terperanjak. Keringatnya mengucur
deras. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ketakutan.
Esoknya, sang Imam mengumpulkan keberanian
agar malamnya bisa menemui si laki-laki. Seraya mengendap-endap, Abu Yazid
mendatangi kafe tempat si Fulan ‘mangkal’. Saat baru masuk, nurani Abu Yazid berontak.
Dia segera membalikkan badan.
“Hai, Abu Yazid!” seru sebuah suara, dari
dalam kafe.
Rupanya, panggilan tersebut berasal dari si
Fulan. Abu Yazid pun menghentikan langkahnya.
Si laki-laki mendatangi Imam Abu Yazid,
lantas berkata, “Kamu membawa titipan untukku?”
“Iya,” jawab Abu Yazid, “salam dari
Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa sallam.”
“’Alaika wa ‘alaihis salam,” jawab si
Fulan.
“Begini,” tutur si Fulan sembari menunjuk
delapan orang di dalam kafe yang sedang mengonsumsi khamr, “kedatanganmu
berarti tugasku sudah selesai. Mereka, awalnya berjumlah empat puluh. Sekarang
tinggal delapan orang. Ini bagian untukmu.”
Si Fulan pun berlalu pergi. Amanah dakwah
di kafe minuman keras telah diestafetkan kepada Imam Abu Yazid Rahimahullahu Ta’ala.
Meski kisah ini banyak dipertanyakan oleh
beberapa kalangan kaum Muslimin terkait sanadnya, ada hikmah agung di baliknya.
Banyak di antara kita yang lebih melihat tampilan luar, padahal di dalamnya
terdapat kemuliaan.
Laki-laki tanpa nama ini, misalnya
mendapatkan salam dari baginda Nabi. Padahal orang-orang mengenalnya sebagai
tukang mabuk.
Wallahu a’lam.
[Pirman/Kisahikmah]

