Sumber : www.sufimuda.net
blogspot.go.id
Seorang petani yang berada di desa di balik desa nun jauh disana mendengar informasi bahwa di dunia ini yang paling mahal harganya adalah intan. Intan itu bentuknya berkilau, indah di pandang mata. Intan terpendam di dalam tanah, untuk bisa mendapatkan intan kita harus menggali tanah terlebih dulu. Demikian informasi singkat dan ringkas yang diketahui oleh si petani dan dia seumur hidup belum pernah melihat intan apalagi memegangnya, hanya mendengar cerita dari orang-orang.
Sebagai
petani yang miskin, dia ingin memiliki intan dan menyimpan untuk diwariskan
kepada anak cucu, dengan harapan anak dan cucu nya kelak bisa hidup
berkelimpahan. Konon kabarnya sebutir intan bisa untuk membangun sebuah rumah
besar, bisa membeli beberapa petak sawah atau kebun yang luas. Petani sangat
semangat untuk memiliki intan dan menyimpannya. Dia selalu berharap dan berdoa
bisa mendapatkan intan.
Suatu
hari ketika dia menyangkul di kebun, tiba-tiba dia melihat benda berserakan
dalam tanah, sebenarnya itu adalah beling atau pecahan kaca. Dengan mata yang
berbinar-binar, dia sujud syukur ke tanah, “Alhamdulillah, doa saya
terkabul, akhirnya saya mendapatkan intan, dalam jumlah yang sangat banyak”.
Pecahan-pecahan
kaca yang banyak tersebut kemudian di masukkan ke dalam karung, di cuci dan
disampan sangat rapi, dia khawatir nanti intannya di curi orang. Dia tidak
pernah menanyakan kepada siapapun tentang benda yang disimpannya, tidak
berkonsultasi dengan ahli intan, hanya dengan modal keyakinan tanpa ilmu dan tanpa
pembimbing, dia meyakini yang disimpannya itu adalah intan.
Waktu
berlalu, 20 tahun kemudian, ketika anak-anak nya sudah besar, dia teringat
dengan simpanan berharga yang dulu ditemukan di kebunnya yaitu satu karung
intan. Si Petani membawa pacahan kaca yang di yakini intan tersebut ke kota, ke
orang yang ahli tentang intan untuk di jual.
Dengan
suara pelan dia mengatakan kepada pembeli intan, “Tuan, saya mau jual intan”.
“Mana
intan nya?” Tanya Pembeli. Kemudian petani mengeluarkan satu butir pecahan
kaca dan diperlihatkan kepada ahli intan. Setelah di amati, ahli intan tertawa
dan berkata kepada petani, “ini bukan intan tapi kaca!!”.
Petani
bertanya, “Harganya berapa?”
“Pecahan
kaca tidak memiliki harga, ini sampah yang dibuang orang” kata pembeli. Kemudian
pembeli yang ahli intan memperlihatkan kepada petani bentuk intan yang asli dan
dia menjelaskan tentang secara panjang lebar dan detail juga tentang bagaimana
cara intan bisa ditemukan.
Mendengar
penjelasan ahli intan, petani menjadi lemas, hilang semua impian dan harapannya
untuk mewariskan intan kepada anak-anaknya, untuk bekal dia di hari tua.
Seluruh yang disimpan dalam karung tersebut semua tidak di terima oleh ahli
intan bahkan dianggap sebagai sampah.
Saya
mendengar cerita ini dari Guru saya dan sampai sekarang bagi saya ini adalah
cerita yang sangat menarik. Betapa banyak dari kita sepanjang hidup bangga
dengan amalan-amalan yang kita kumpulkan, ibadah-ibadah yang banyak dengan
harapan pahala yang melimpah namun terkadang kita tidak meneliti lebih lanjut,
tidak bertanya kepada Ahli nya, apakah yang kita kerjakan itu sudah sesuai
dengan standar yang diharapkan oleh Allah atau semua itu hanya nafsu dan
keinginan kita semata.
Kita
semua meyakini ibadah yang kita kerjakan, shalat seumur hidup, puasa, zakat dan
lain-lain diterima oleh Allah tanpa kita mau berguru, belajar kepada yang Ahli
dalam bidang tersebut. Kita hanya membaca informasi dari buku, membaca dari apa
yang tertulis dalam al-Qur’an yang makna nya mungkin tidak seperti yang kita
pahami. Al-Qur’an menceritakan tentang I’tikaf, tanpa pembimbing kita langsung
ber’itikaf sendiri di mesjid, yakin Tuhan memberikan pahala tanpa mau bertanya
kepada Guru Yang Ahli.
Allah
sudah mengingatkan bahwa bagi yang tidak memahami hakikat puasa dia hanya mendapatkan
lapar dan dahaga, hanya itu saja, tidak lebih. Allah menjanjikan dua kesenangan
dalam berbuka yaitu Berjumpa dengan Tuhan nya dan berbuka. Tidak pernah kita
riset, teliti dan selidiki secara mendalam, apakah kita sudah berjumpa dengan
Allah sebelum berbuka? Ataukah kita selama ini hanya mendapatkan satu
kenikmatan saja yaitu makan dengan sepuasnya ketika berbuka puasa.
Semua
orang menunggu datangnya kiamat untuk bisa mengetahui apakah amalannya diterima
atau tidak, sama halnya dengan petani yang menyimpan pecahan kaca selama 20
tahun. Sebagian besar orang dalam ibadah itu spekulatif, antara diterima
atau tidak, hanya sebagian kecil yang sampai kepada keyakinan dan kepastian..
Mari teliti lagi apa yang telah kita simpan dan akan kita simpan baik di
bulan Ramadhan atau diluarnya, apakah yang kita simpan itu adalah sebuah intan
yang bernilai atau jangan-jangan hanya pecahan kaca??.

