sumber : www.sufimuda.net
“Manusia di dunia ini sesungguhnya sedang tidur. Manakala
mati, mereka bangun”
Ali bin Abi Thalib
Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia mampu
berfikir secara baik tentang alam dan ciptaan Tuhan sehingga bisa memberikan manfaat
kepada manusia. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang baik dan mana
yang buruk. Akal manusia dengan kemampuan yang begitu luar biasa mampu menyerap
dan mengolah informasi sehingga menghasilkan hal-hal yang luar biasa.
Walaupun mempunyai kemampuan yang hampir tak terbatas, akal
manusia diberi batasan oleh Tuhan, hanya mampu memikirkan hal-hal selain Tuhan.
Ketika berhubungan dengan Dzat Tuhan, maka akal akan mengalami kebuntuan, akal
tidak mampu membahas apapun tentang dzat Tuhan, mengapa?
Tuhan menciptakan manusia terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani
dan rohani. Akal termasuk ke dalam unsur jasmani yang melekat dengan tubuh
manusia. Akal hanya bisa bekerja ketika manusia sadar dan normal, ketika
manusia tidak sadar maka akal tidak berfungsi sama sekali. Sebagai contoh
sederhana, dalam keadaan tidur, manusia bodoh dengan professor sama-sama tidak
sadar, tidak akan mampu menjawab pertanyaan apapun walaupun pertanyaan itu
sangat sederhana. Orang bodoh dan professor dalam keadaan tidur ketika ditanya,
“Berapa 1 +1”, keduanya tidak bisa menjawab.
Kalau dalam keadaan tidur saja tidak bisa menjawab pertanyaan
sederhana, bagaimana mungkin akan bisa menjawab pertanyaan setelah mengalami
kematian. Ketika masuk ke dalam kubur dan datang malaikat menanyakan, “Siapa
Tuhanmu?” bagaimana mungkin dia bisa menjawabnya kalau hanya mengandalkan akal.
Akal sekali lagi mempunyai dimensi terbatas, itulah sebabnya
Tuhan melarang manusia memikirkan dzat Tuhan karena memang akal tidak akan
mampu memikirkannya. Akal berada dalam dimensi dunia sedangkan Dzat Tuhan
berada dalam dimensi tak terhingga. Akal termasuk baharu sedangkan Dzat Tuhan
bersifat Qadim.
Karena manusia mempunyai dua unsur, jasmani dan rohani, maka
di dalam beragama khususnya ber-Islam, kedua unsur ini harus disentuh, harus
diajarkan agar manusia ber-Islam secara jasmani dan rohani. Untuk mengislamkan jasmani
kita tidak akan pernah kekurangan Guru, begitu banyak di dunia ini Guru yang
mengajarkan Islam secara jasmani.
Islam yang diajarkan kepada jasmani itu sayangnya tidak
menyentuh sama sekali kepada ruh manusia karena keduanya mempunyai dimensi yang
berbeda. Untuk bisa meng-Islam-kan ruh, diperlukan ruhani yang dimensi lebih
tinggi yaitu ruhani para Rasul dan Para Wali yang telah mencapai tahap kamil
mukamil (suci lagi bisa mensucikan).
Untuk bisa meng-Islam-kan ruh dari manusia diperlukan sebuah
metodologi atau cara atau dalam bahasa Arab disebut Tareqatullah. Dengan
Tareqatullah atau popular dengan tarekat inilah ruh manusia bisa dicucikan,
diajarkan cara menyebut nama Tuhan sehingga ruh menjadi Islam. Kalau ruh
manusia tidak diajarkan cara menyebut nama Tuhan, maka selamanya ruh akan
merana sejak di dunia sampai ke akhirat kelak.
Cara menyebut nama Tuhan, cara berkomunikasi dengan Tuhan
harus dipelajari dan pengajarannya harus diselesaikan sebelum ajal menjemput.
Di alam kubur dan alam setelahnya tidak ada lagi pelajaran itu. Kalau semasa
hidup di duni tidak bisa berkomunikasi dengan Tuhan maka sampai di alam kubur
dan alam selanjutnya tidak akan bisa berkomunikasi dengan Tuhan.
Kenapa hampir kebanyakan orang yang mengaku paham dengan agama
ketika sampai kepada pembasahan tentang “Dzat Tuhan”, “Memadang wajah Tuhan” dan “Berbicara
dengan Tuhan” mereka mundur secara
teratur bahkan hal-hal seperti ini dianggap tabu, dengan dalih “Jangan kau
pikirkan Dzat-Ku” akhirnya hal yang paling pokok ini terlupakan atau sengaja
tidak dibahas. Jawabannya karena mereka hanya berbicara tentang agama secara
Jasmani tanpa menyentuh ruhani sama sekali.
Ketika ruhani diajarkan agama oleh Arwahul Muqadasyah Rasulullah
saw yang disalurkan oleh waliyamursyida, maka ruhani manusia akan mampu
memandang hal-hal yang selama ini dianggap gaib. Ketika ruhani telah “dihidupkan”
maka dia akan mampu mencapai alam Rabbani sehingga hal yang paling gaib
sekalipun akan menjadi nyata.
Benar ucapan Ali bin Abi Thalib: “Manusia di dunia ini
sesungguhnya sedang tidur. Manakala mati, mereka bangun” karena alam setelah kematian menjadi
gaib atau abstrak bagi manusia yang sedang hidup, ketika manusia meninggal,
alam kubur menjadi nyata dan alam dunia ini akan menjadi alam gaib atau abstrak
baginya. Bagi orang yang telah meninggal dunia, alam kubur dengan segala isinya
akan menjadi nyata (hidup) dan alam dunia akan menjadi abstrak (mimpi) baginya.
Alam kubur atau alam setelah kematian tidak akan bisa ditembus
oleh jasmani manusia karena dimensinya berbeda, itulah sebabnya bagi kalangan
awam, alam kubur itu menjadi sebuah misteri, hal yang tidak bisa terungkap.
Berbeda dengan orang yang ruhaninya telah di isi dengan Kalimah Allah (ruhani
nya telah diajarkan) atau telah mengalami apa yang di istilahkan oleh
Rasulullah sebagai “Mati sebelum mati” maka ruhaninya akan bisa menembus alam
kubur bahkan alam akhirat sekalipun.
Dalam surat Al-Fatihah Allah menyebutkan “Aku adalah Raja
Akhirat”, artinya Allah berada dalam dimensi akhirat, itulah sebabnya ketika
ruhani manusia belum dihidupkan, belum bisa menembus alam akhirat maka Allah
tidak akan bisa dijangkau sama sekali. Akal akan mengalami jalan buntu ketika
ingin menjangkau Allah yang berada di dimensi berbeda.
Ilmu agama yang dipelajari di sekolah, di pasantren atau
universitas Islam adalah ilmu agama untuk jasmani manusia bukan untuk ruhani
manusia. Disana hanya diajarkan sifat malaikat tapi tidak diajarkan teknik atau
cara berjumpa dengan malaikat. Disana hanya diajarkan tentang Tuhan, nama dan
sifat-Nya tapi tidak diajarkan cara berjumpa dan memandang wajah-Nya. Ketika
kita terlalu fokus kepada pelajaran-pelajaran jasmani, maka ruhani akan merana,
ruhani selamanya tidak berada dalam agama,
Ketika ruhani tidak berada dalam Agama atau tidak Islam, maka
selama dia akan penasaran tentang alam kubur, alam akhirat, hal-hal yang
berhubungan dengan kematian, dalam lubuk hati yang paling dalam dia pasti
merasakan takut akan kematian dan selamanya tidak mampu menjawab nasib apa yang
dialami setelah kematian. Sementara ruhani yang telah di isi dengan Kalimah
Allah, dari dunia telah beserta dengan Allah maka dia tidak lagi penasaran akan
hal-hal setelah kematian karena ruhaninya telah mampu menembus alam setelah
kematian.
Rasulullah SAW dalam isra’ mikraj mampu melihat surga dan neraka,
melihat hal-hal yang tidak bisa dijangkau dengan akal karena ruhani Beliau
telah melewati batas-batas alam dunia ini. Seharusnya ummat Nabi juga harus
mampu menembus alam duniawi sehingga ruhaninya dari sekarang sudah berada di
alam akhirat, alam Rabbani, Alam dimana manusia dengan Tuhan begitu dekat dan
akrab.
Di akhir zaman ini manusia penasaran tentang wujud Tuhan sementara
dia dengan yakin menolak cara untuk bisa mencapai yaitu Tareqatullah. Ketika
tarekat dengan medote luar biasa warisan Rasulullah di tolak, diangap bid’ah
maka saat itulah manusia menjadi bingung akan eksistensi Tuhan. Manusia hanya
bisa berbicara tentang apa yang tertulis dalam kitab suci tapi tidak mampu
menembus dimensi lain dari kitab suci itu sendiri yaitu dimensi tanpa batas
atau dimensi tak terhingga.
Kemudian manusia hanya memahami agama secara jasmaninya akan lalai
dengan ibadah-ibadah rutin, meyakinkan diri bahwa dia telah shaleh, telah
melaksanakan perintah agama dengan baik tanpa bisa naik kepada dimensi
selanjutnya. Tuhan tidak bisa dijangkau dengan akal maka pelajaran agama yang
diterima akal akan hilang ketika manusia tidur, akan hilang ketika manusia
tidak sadar dan akan lenyap ketika manusia berada di alam setelah kematian.
Lalu bekal apa yang diandalkan manusia menghadapi pertanyaan malaikat setelah
kematian tentang “Siapa Tuhanmu?”. Ketika tidur pun dia tidak mampu menjawab
pertanyaan itu bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaan itu setelah mati,
sementara akal pikiran tempat pengetahuan agama itu tersimpan juga sudah tidak
ada lagi. Artinya dia tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan malaikat dan kalau pertanyaan itu tidak bisa dijawab maka
tempatnya sudah jelas dimana, disiksa selamanya.
Kalau hanya mengandalkan amal ibadah, bagaimana mungkin amal
ibadah bisa diterima kalau semasa di dunia ruhaninya tidak mengenal Allah sama
sekali. Lalu siapa yang disembah dalam setiap ibadah? Wajah siapa yang hadir
dalam ibadahnya? Sedangkan wajah Allah Yang Maha Agung tidak pernah dikenal
sama sekali.
Nabi mengatakan bahwa ibadah akan ditolak oleh Allah kalau ibadah
itu tidak dilakukan dengan Ikhlas. Bagaimana mungkin ibadah bisa ikhlas kalau
dalam hati sanubari masih bersemayam unsur yang menyebabkan hati tidak ikhlas
yaitu Iblis beserta bala tentaranya. Selama Iblis dan tentaranya masih
bersemayam dalam hati manusia maka selamanya manusia tidak ikhlas beribadah dan
ibadahnya akan ditolak.
Iblis tidak akan takut dengan bacaan ayat-ayat Tuhan yang
diproduksi oleh mulut kita bahkan Iblis sangat fasih melantunkan ayat-ayat
Tuhan. Bagaimana mungkin Iblis bisa dilawan, umurnya jutaan tahun, bisa keluar
masuk kemana saja bahkan dia bisa keluar masuk ke surga, sedangkan kita???
Hanya satu yang ditakuti oleh Iblis yaitu Allah!. Ketika hati
disinari dengan Kalimah Allah, di isi dengan Nur Allah maka segala unsur-unsur
setan dalam diri, Iblis beserta balatentaranya akan lenyap dengan sendirinya. Pelajaran
ini hanya ada di Tarekat tidak ditempat lain.
Kalau kita buka surat Al-Ikhlas maka disana tidak ada satu kata
Ikhlas pun disebutkan. Ini bermakna bahwa sebenarnya ikhlas itu tidak ada dan
manusia tidak akan mampu mencapai derajat Ikhlas kecuali ruhani nya dibimbing
oleh Rasulullah SAW. Guru Sufi mengatakan, “Kalau sudah ikhlas maka sudah ada
Tuhan disana”. Ketika hati manusia telah bersemayam nur Allah maka secara
otomatis hatinya akan menjadi Ikhlas karena Sang Maha Ikhlas ada disana. Jadi
tidak perlu menerka-nerka apakah ibadah kita diterima atau tidak, selama
hati belum mengenal Allah dengan baik maka selama itu pula ibadah tidak akan
mencapai tahap ikhlas dan ibadah seluruhnya tertolak.
Maka lupakan ibadah-ibadah yang telah anda kumpulkan bertahun-tahun
karena itu tidak akan bisa menyelamatkan diri anda. Segera upgrade ibadah anda
dari ibadah jasmani kepada ibdah ruhani sehingga anda mengenal Allah dengan
benar baru kemudian menyembahnya.
Ada sebuah pengalaman menarik ketika saya bersama Guru. Ketika
mengabdi, saya sering diminta oleh Guru untuk memijit kaki Beliau setelah
seharian Beliau lelah melayani murid-murid dan orang-orang yang datang baik
meminta nasehat maupun orang-orang yang ingin berobat dengan metode
Dzikirullah. Ketika Beliau tidur dan sudah dalam keadaan pulas, terdengar halus
suara nafas dan Beliau benar-benar dalam kondisi tertidur pulas. Saya berhenti
untuk memijit. Sepengetahuan saya seorang Guru Muryid itu tidak pernah tidur.
Dalam hati saya berkata, “Katanya Guru Mursyid itu tidak pernah tidur, tapi
ini kenapa tertidur pulas tanpa sadarkan diri?” Belum selesai saya berkata
dalam hati, tiba-tiba Beliau bangun dan langsung membentak saya, “Siapa yang
mengatakan Guru Mursyid itu tidur?” saya sangat kaget karena Beliau
tiba-tiba bangun dan mengatakan itu dengan keras. Beliau tertidur lagi dengan
pulas.
Kemudian baru saya pahami bahwa orang-orang yang ruhaninya telah
disucikan, dalam keadaan tidur dan terjaga tetap bisa mengingat Allah bahkan
bisa membaca isi hati orang lain. Guru tetap tertidur mengikuti alamiah manusia
sedangkan Mursyid yang merupakan ruhani Guru tidak pernah tidur, Mursyid
selamanya terjaga.
Itulah sebabnya, seorang murid yang bermunajat kepada Allah dengan
menyebut nama Guru Mursyidnya akan terus tersambung kepada Allah sampai
kapanpun, selamanya dari dunia sampai ke akhirat kelak. Ruhani Guru Mursyid itu
pada hakikatnya adalah Wasilah yang berasal dari Allah, dengan Wasilah itulah
manusia bisa berkomunikasi dengan Allah.
Orang yang memiliki Guru Mursyid akan terus dibimbing siang dan
malam, dimanapun dan kapanpun, terus menerus mendapat pelajaran karena
ruhaninya telah hidup sehingga bisa menerima pelajaran dari Allah Yang Maha
Hidup. Hakikatnya yang membimbing itu bukan Guru karena Guru mempunyai
keterbatasan, yang membimbing itu adalah Allah sendiri setelah mengetahui
metodenya yaitu Tariqatullah.
Di malam penuh berkah ini, saya mengucapkan selamat kepada
sahabat-sahabat yang akan mengunjungi alkah-alkah zikir, bertawajuh
menghadapkan wajah kepada Wajah Allah SWT dibawah bimbingan Guru Mursyid yang
Kamil Mukamil. Begitu luar biasanya Tawajuh berjamaah ini sehingga Rasulullah
menyebutnya sebagai Taman Surga. Untuk mengobati kerinduan akan Taman Surga
bisa dibaca tulisan yang pernah saya tulis dengan judul Taman Surga.
Mengakhiri tulisan ini, marilah kita segera menghidupkan ruhani
dengan Dzikirullah (Ingat Kepada Allah) sehingga dari dunia ini kita telah
terbangun, sadar sepenuhnya, dengan demikian ketika kita mati kita tidak
seperti orang yang terbangun dari mimpi.
Semoga Tulisan ini bermanfaat, salam.

